Abu
Hurairah z menyampaikan dari Rasulullah n,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا فِى النَّارِ
“Sesungguhnya seseorang mengatakan satu ucapan yang dia tidak menganggapnya sebagai ucapan jelek, namun ternyata dengan ucapannya itu dia terjerumus selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi no. 2314, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Penyebutan tujuh puluh tahun di sini bermaksud menunjukkan lamanya masa tinggalnya di dalam neraka, bukan menunjukkan batas waktu (hanya selama tujuh puluh tahun, -pen.). (Tuhfatul Ahwadzi, hlm. 1849)
Apabila kita sudah mengetahui ancaman Rasulullah n ini, mestinya kita tak lagi membiarkan buah hati yang kita cintai menuai kebinasaan, wal ’iyadzu billah!
Dengan terus memohon kepada Allah l, kita arahkan anak-anak agar terbiasa berkata-kata yang baik dan jauh dari segala macam perkataan jelek. Dengan begitu, mereka akan dapat menciptakan hubungan baik dengan siapa pun yang bergaul dengan mereka. Abu Hurairah z menceritakan,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n وَقَفَ عَلَى نَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُم مِنْ شَرِّكُم؟ قَالَ: فَسَكَتُوا، فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ
Rasulullah n pernah berdiri di hadapan sekelompok sahabat yang sedang duduk. Lalu beliau bertanya, “Maukah kuberitahukan tentang orang yang terbaik dan orang yang terjelek di antara kalian?” Para sahabat terdiam. Beliau mengulangi pertanyaan itu sampai tiga kali. Berkatalah salah seorang dari mereka, “Tentu, wahai Rasulullah. Beri tahukanlah kepada kami orang yang terbaik dan orang yang terjelek di antara kami.” Beliau pun berkata, “Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang bisa diharap kebaikannya dan orang lain merasa aman dari kejelekannya. Adapun orang yang terjelek di antara kalian adalah orang yang tak bisa diharap kebaikannya dan orang lain tak bisa merasa aman dari kejelekannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2263, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Lebih dari itu, ucapan yang baik akan membuahkan keutamaan di akhirat nanti. Ini sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah n dalam hadits Sahl bin Sa’ad z,
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Siapa yang bisa menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan -red.) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan -red.), aku akan menjamin surga baginya.” (HR. al-Bukhari no. 6474)
Bahkan, ucapan yang lembut kepada ibu akan membawa kebaikan yang amat besar bagi mereka. Dikisahkan oleh Thaisalah bin Mayyas,
قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ: أَتَفْرَقُ مِنَ النَّارِ وَتُحِبُّ أَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: إِي، وَاللهِ! قَال: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قُلْتُ: عِنْدِي أُمِّي. قَالَ: فَوَاللهِ، لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتَنَبْتَ الكَبَائِرَ.
Ibnu ‘Umar z pernah bertanya kepadaku, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” “Ya, demi Allah!” jawabku. “Kedua orang tuamu masih hidup?” ia bertanya lagi. “Aku masih punya ibu,” jawabku. “Demi Allah! Sungguh, kalau engkaulemah lembut berbicara dengannya dan selalu memberinya makan, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau jauhi dosa besar.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 8, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 6)
Demikianlah kenyataannya. Ucapan baik yang dibiasakan akan menjadi sesuatu yang melekat dan akan memuliakan pemiliknya di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, ucapan jelek yang biasa terucapkan akan melekat pula dan menghinakan pemiliknya di dunia dan di akhirat.
Dinyatakan oleh Rasulullah n dalam sabda beliau yang dinukil oleh sahabat yang mulia, Abu Hurairah z,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sungguh, seseorang mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk ucapan yang diridhai oleh Allah l, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu Allah l mengangkatnya beberapa derajat. Sungguh, ada pula seorang hamba mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk perkataan yang dimurkai oleh Allah l, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu dia terjatuh ke dalam neraka Jahannam.” (HR. al-Bukhari)
Ketika Mu’adz bin Jabal z bertanya tentang amalan-amalan yang bisa memasukkan seseorang ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, Rasulullah n kemudian bersabda,
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى، يَا رَسُوْلَ الله. قَالَ: فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ، قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ – أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِم؟
“Maukah engkau kuberi tahu apa yang mengokohkan itu semua?” “Mau, wahai Rasulullah!” jawabku. Beliau pun memegang lidah beliau sambil berkata, “Tahanlah olehmu ini!” Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, akankah kita dihukum karena apa yang kita ucapkan?” Beliau bersabda, “Ibumu kehilangan engkau, wahai Mu’adz! Bukankah seseorang ditelungkupkan dalam neraka di atas wajah mereka—atau hidung mereka—karena hasil ucapannya?” (HR. at-Tirmidzi no. 2616, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Lihat kembali anak-anak kita! Perhatikan dengan baik ucapan yang keluar dari lisan mereka! Segera benahi apa yang salah dari perbincangan mereka. Jangan biarkan mereka tenggelam dalam kesalahan dan kekeliruan. Kelak kita akan mempertanggungjawabkan kelalaian itu di hadapan Rabb semesta alam.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا فِى النَّارِ
“Sesungguhnya seseorang mengatakan satu ucapan yang dia tidak menganggapnya sebagai ucapan jelek, namun ternyata dengan ucapannya itu dia terjerumus selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi no. 2314, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Penyebutan tujuh puluh tahun di sini bermaksud menunjukkan lamanya masa tinggalnya di dalam neraka, bukan menunjukkan batas waktu (hanya selama tujuh puluh tahun, -pen.). (Tuhfatul Ahwadzi, hlm. 1849)
Apabila kita sudah mengetahui ancaman Rasulullah n ini, mestinya kita tak lagi membiarkan buah hati yang kita cintai menuai kebinasaan, wal ’iyadzu billah!
Dengan terus memohon kepada Allah l, kita arahkan anak-anak agar terbiasa berkata-kata yang baik dan jauh dari segala macam perkataan jelek. Dengan begitu, mereka akan dapat menciptakan hubungan baik dengan siapa pun yang bergaul dengan mereka. Abu Hurairah z menceritakan,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n وَقَفَ عَلَى نَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُم مِنْ شَرِّكُم؟ قَالَ: فَسَكَتُوا، فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ
Rasulullah n pernah berdiri di hadapan sekelompok sahabat yang sedang duduk. Lalu beliau bertanya, “Maukah kuberitahukan tentang orang yang terbaik dan orang yang terjelek di antara kalian?” Para sahabat terdiam. Beliau mengulangi pertanyaan itu sampai tiga kali. Berkatalah salah seorang dari mereka, “Tentu, wahai Rasulullah. Beri tahukanlah kepada kami orang yang terbaik dan orang yang terjelek di antara kami.” Beliau pun berkata, “Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang bisa diharap kebaikannya dan orang lain merasa aman dari kejelekannya. Adapun orang yang terjelek di antara kalian adalah orang yang tak bisa diharap kebaikannya dan orang lain tak bisa merasa aman dari kejelekannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2263, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Lebih dari itu, ucapan yang baik akan membuahkan keutamaan di akhirat nanti. Ini sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah n dalam hadits Sahl bin Sa’ad z,
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Siapa yang bisa menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan -red.) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan -red.), aku akan menjamin surga baginya.” (HR. al-Bukhari no. 6474)
Bahkan, ucapan yang lembut kepada ibu akan membawa kebaikan yang amat besar bagi mereka. Dikisahkan oleh Thaisalah bin Mayyas,
قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ: أَتَفْرَقُ مِنَ النَّارِ وَتُحِبُّ أَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: إِي، وَاللهِ! قَال: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قُلْتُ: عِنْدِي أُمِّي. قَالَ: فَوَاللهِ، لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتَنَبْتَ الكَبَائِرَ.
Ibnu ‘Umar z pernah bertanya kepadaku, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” “Ya, demi Allah!” jawabku. “Kedua orang tuamu masih hidup?” ia bertanya lagi. “Aku masih punya ibu,” jawabku. “Demi Allah! Sungguh, kalau engkaulemah lembut berbicara dengannya dan selalu memberinya makan, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau jauhi dosa besar.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 8, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 6)
Demikianlah kenyataannya. Ucapan baik yang dibiasakan akan menjadi sesuatu yang melekat dan akan memuliakan pemiliknya di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, ucapan jelek yang biasa terucapkan akan melekat pula dan menghinakan pemiliknya di dunia dan di akhirat.
Dinyatakan oleh Rasulullah n dalam sabda beliau yang dinukil oleh sahabat yang mulia, Abu Hurairah z,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sungguh, seseorang mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk ucapan yang diridhai oleh Allah l, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu Allah l mengangkatnya beberapa derajat. Sungguh, ada pula seorang hamba mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk perkataan yang dimurkai oleh Allah l, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu dia terjatuh ke dalam neraka Jahannam.” (HR. al-Bukhari)
Ketika Mu’adz bin Jabal z bertanya tentang amalan-amalan yang bisa memasukkan seseorang ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, Rasulullah n kemudian bersabda,
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى، يَا رَسُوْلَ الله. قَالَ: فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ، قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ – أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِم؟
“Maukah engkau kuberi tahu apa yang mengokohkan itu semua?” “Mau, wahai Rasulullah!” jawabku. Beliau pun memegang lidah beliau sambil berkata, “Tahanlah olehmu ini!” Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, akankah kita dihukum karena apa yang kita ucapkan?” Beliau bersabda, “Ibumu kehilangan engkau, wahai Mu’adz! Bukankah seseorang ditelungkupkan dalam neraka di atas wajah mereka—atau hidung mereka—karena hasil ucapannya?” (HR. at-Tirmidzi no. 2616, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Lihat kembali anak-anak kita! Perhatikan dengan baik ucapan yang keluar dari lisan mereka! Segera benahi apa yang salah dari perbincangan mereka. Jangan biarkan mereka tenggelam dalam kesalahan dan kekeliruan. Kelak kita akan mempertanggungjawabkan kelalaian itu di hadapan Rabb semesta alam.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar